Negeri Saya masih hiruk-pikuk dengan berita kenaikan BBM.. jujur Saya tak pasang badan, tapi juga tak buang muka.. sedari dulu sudahlah mengerti apa yang sedang menjangkiti organ-organ dalam tubuh ibu pertiwi.. sehingga tak perlulah bermuram durja.. kalau tak kuasa menggelontorkan uang untuk mengisi bejana bahan bakar kendaraan bermotor kita, bangunlah lebih pagi, mari kita kayuh sepeda.. :D
Tak perlu sibuk mencari dan mencaci siapa yang lebih pantas berada di depan dan mengayuh perahu diatas banjir-banjir di Jakarta, sepersekian persen saja yang membedakan mereka, seolah memang masih tampak bedanya sekarang.. tapi siapa berani jamin? ya, kita doakan saja.. berdoalah dalam gelap dan khusyuk.. kadang ada benarnya ibu saya, matikan lampu yang tidak terpakai di malam hari, sedikitnya itu bisa bantu negeri ini.. dan kemudian berdoalah.. berterimakasih kepada Tuhanmu, berdoalah untuk ayah-ibumu, untuk adik-kakakmu, suami/isterimu, calon suami/isterimu, untuk para penjaga pintu tol, untuk para pengisi suara demonstrasi, untuk para kuli tinta, para polwan, untuk penjahit baju kemeja kotak-kotak, untuk para peniup gelembung ekonomi, untuk adik-adik di dewan perwakilan rakyat, dan untuk para peramal negeri ini..
:) sepertinya tulisan Saya kali ini akan sangat panjang, bukan maksud Saya untuk mengurui para guru.. Saya hanya ingin mengawali April ini dengan beberapa lembar cerita keberhasilan.. bukan takut dengan kegagalan, Saya hanya tak ingin terlalu banyak mendengar cerita gagal.. :)
Saya mulai ya…
One of the most felicitous uses of Twitter is to promote long-form nonfiction by circulating a blurb leading to the full text. Since the practice started, people have shared current long magazine and newspaper pieces and dusted off archival ones. Now organizations like @longform and @longreads and @TheByliner work specifically to find and share excellent pieces that stretch up to three thousand words and beyond. Before Twitter, I was reading half as much extended nonfiction and fiction as I do now on the iPhone or iPad, using apps like Readability and Instapaper.
Two pernicious fallacies embedded in criticism of Twitter—and, by extension, blogs, tumblrs, and GIFs of catbots who kill with laser eyes—are that non-traditional forms of expression can wipe out existing ones, and that these forms are somehow impoverished. The variables unique to the Internet—hyperlinks, GIFs, chat, comments—have enabled new writing voices with their own distinct syntaxes. But we are not dealing with fungible goods—the new forms will never push out older ones because they’re insufficiently similar. You might overdose on unicorn GIFs and go to bed too tired to read “Freedom,” but unicorn GIFs will never replace “Freedom.”
- Sasha Frere-Jones on the good things about Twitter: http://nyr.kr/GG6KH6